Pemeliharaan Jalan Titigo Telan Anggaran Rp64 Juta, Kerusakan Masih Terlihat di Lapangan.

BOLMUT, temposatu.com — Jalan perkebunan bukan sekadar hamparan tanah yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lainnya. Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari hasil kebun, jalan menjadi akses penting untuk menjalankan aktivitas sehari-hari dan mengangkut hasil pertanian. Ketika kondisinya rusak, perjalanan dan aktivitas ekonomi masyarakat pun berpotensi ikut terdampak.
Persoalan inilah yang menjadi perhatian di kawasan Perkebunan Titigo, Desa Saleo, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut). Pemerintah Desa Saleo diketahui mengalokasikan Dana Desa Tahun Anggaran 2025 sebesar Rp64 juta untuk pemeliharaan jalan di kawasan tersebut.
Informasi itu disampaikan Bendahara Desa Saleo, Awi Djenaan, saat ditemui awak media pekan lalu.
Menurut Awi, pemeliharaan jalan dilakukan karena kondisinya telah mengalami kerusakan. Padahal, jalan perkebunan tersebut sebelumnya telah dibangun menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2022 dengan nilai anggaran lebih dari Rp100 juta.
Seiring berjalannya waktu, kerusakan jalan membuat pemeliharaan kembali diperlukan agar akses menuju kawasan perkebunan dapat dimanfaatkan masyarakat dengan lebih baik.
“Karena kondisi yang sudah rusak, maka pada tahun 2025 Pemerintah Desa melalui Dana Desa menganggarkan biaya pemeliharaan sebesar Rp64 juta,” ungkap Awi Djenaan.
Dalam pelaksanaannya, pekerjaan pemeliharaan jalan tersebut menggunakan sistem tenaga Harian Orang Kerja (HOK) serta menyewa alat berat berupa ekskavator kecil.
Namun, anggaran yang disiapkan tidak seluruhnya terserap. Berdasarkan keterangan Awi, masih terdapat sisa anggaran sekitar Rp12 juta yang kemudian dicatat sebagai Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (Silpa).
Dengan demikian, berdasarkan angka yang disampaikan tersebut, realisasi pengeluaran diperkirakan sekitar Rp52 juta. Meski demikian, angka pasti realisasi perlu dipastikan melalui dokumen pertanggungjawaban keuangan desa.
Di balik alokasi anggaran untuk pemeliharaan, kondisi jalan Perkebunan Titigo masih menyisakan persoalan.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa jalan tersebut belum sepenuhnya membaik. Kerusakan masih terlihat di sejumlah titik, sehingga kondisi hasil pemeliharaan menjadi hal yang patut mendapat perhatian.
Situasi ini memunculkan pertanyaan penting mengenai sejauh mana pekerjaan pemeliharaan telah dilaksanakan, bagian jalan mana saja yang ditangani, serta bagaimana hasil pekerjaan tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat yang menggunakan akses perkebunan itu.
Pertanyaan tersebut bukan untuk menyimpulkan adanya penyimpangan, melainkan sebagai bagian dari kepentingan publik agar penggunaan anggaran desa dapat dipahami secara terbuka dan hasil pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat.
Sebab, keberhasilan sebuah program tidak hanya dilihat dari besarnya anggaran yang dialokasikan atau pekerjaan yang telah dilaksanakan. Kondisi hasil pekerjaan dan manfaatnya bagi masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menilai keberhasilan pembangunan.
Pada akhirnya, harapan masyarakat sederhana, jalan perkebunan yang layak, akses yang lebih mudah, serta penggunaan Dana Desa yang memberikan manfaat nyata.
Sebab, setiap rupiah dari anggaran pembangunan bersumber dari uang negara yang penggunaannya perlu dipertanggungjawabkan. Dan setiap pekerjaan yang dilakukan atas nama kepentingan masyarakat semestinya meninggalkan hasil yang dapat dilihat, dirasakan, dan dipertanggungjawabkan
(AngQ)




